Warga Dijamu Mahasiswa KKN Makanan Thailand

Home >Berita >Warga Dijamu Mahasiswa KKN Makanan Thailand
Warga Dijamu Mahasiswa KKN Makanan Thailand
Preview

WARGA Dusun Curahrejo Desa Curah Takir Kecamatan Tempurejo yang hadir di acara presentasi hasil KKN mahasiswa IAIN Jember Sabtu sore (3/7) terlihat sumringah. Pasalnya, usai mengikuti presentasi mereka mendapat suguhan makanan khas asal Thailand. Namanya nasi krabu. Makanan itu, dibuat khusus oleh Master Anas Abusi, mahasiswa IAIN Jember asal Thailand.

Menu makanan yang dikemas dalam kotak styrofoam itu agak terasa spesial karena dibuat secara khusus oleh Anas tanpa dibantu oleh teman yang lain. Sekilas, makanan yang disajikan terlihat kurang menarik. Isinya nasi putih yang di atasnya terdapat rajangan kobis mentah dan timun segar. Lauknya ada ikan ditumbuk sampai halus seperti abon dan ayam tepung goreng yang dipotong kecil-kecil. Bumbunya ada parutan kelapa disangrai hampir halus, sambal pedas dan bumbu cair berasa asam, asin dan manis. 

“Di negara saya, makanan ini seperti nasi campur kalau di sini. Isinya ada sayuran seperti kubis dan timun, bumbu kelapa, ikan yang ditumbuk sampai lembut, ayam goreng, bumbu cair dan sambal,” papar Anas yang menempuh studi di Prodi Hukum Tata Negara (HTN) Fakultas Syariah.

Kecuali nasi dan sayuran, semua menu yang ada di menu makanan itu punya citarasa khas. Mulai dari bumbu, sambal hingga lauknya cukup nikmat dan beraroma. “Gak nyangka, ternyata cukup nendang juga rasanya,” ujar Abdul Choliq, dosen pembimbing lapangan (DPL) mahasiswa KKN Posko 23 yang ikut menikmati suguhan nasi krabu bikinan mahasiswanya.

Agenda presentasi dan ujian hasil KKN dari Posko 23 yang diikuti warga setempat itu, merupakan rangkaian kegiatan terakhir KKN mahasiswa IAIN Jember. Mereka memaparkan tentang kondisi dusun sekaligus permasalahan yang perlu mendapatkan prioritas penanganan. Problematika masyarakat itu didapat dari hasil pengamatan, wawancara dan penelusuran mahasiswa selama melakukan pengabdian di tengah-tengah masyarakat.

“Dari beberapa problematika sosial yang Kami inventarisir, setelah diskusikan bersama warga, masalah terberat adalah masih banyaknya pelajar SD yang belum bisa membaca. Masak sudah kelas 5 masih ada beberapa yang belum bisa baca. Apalagi yang kelas di bawahnya. Ini sangat memprihatinkan,” jelas Irvan Wahyu Ramadhan, koordinator KKN Posko 23.

Karenanya, mahasiswa asal Prodi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) Fakultas Dakwah ini mengaku sudah menerapkan program khusus bersama teman-temannya untuk mengatasi masalah rendahnya melek baca. Diantaranya dengan membuka privat belajar membaca tambahan bekerjasama dengan guru dari dua SDN yang ada di dusun Curahrejo. “Termasuk, menerapkan metode belajar membaca dengan melagukan nama-nama abjad, supaya anak-anak tidak bosan, riang dan mudah mengingatnya,” papar Irvan. (Abdul Choliq/Humas)


Tag :

Diposting Pada : 5 Agustus 2019, 10:07 | Oleh : Admin
Dilihat : 609