Rumah Moderasi Beragama Selenggarakan Bedah Buku Islam Nusantara karya Imam Besar Masjid Istiqlal

Humas - Di hari pertama bulan Ramadhan 1442 H, Rumah Moderasi Beragama IAIN Jember mengadakan bedah buku "Islam Nusantara: Jalan Panjang Moderasi Beragama di Indonesia", karya Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA. Acara ini berlangsung secara daring pada Selasa (13/4) mulai pukul 13.30 – 15.00 WIB.
Dalam bedah bukunya Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof Nasaruddin mengungkapkan bahwa setiap bangsa mempunyai hak untuk melestarikan kebudayaan luhurnya. Islam Nusantara seharusnya dibaca dalam konteks ini: bahwa kita memiliki pemahaman dan praktik keislaman yang khas. Menurutnya, kehadiran Islam Nusantara memberi warna tersendiri terhadap praktik keislaman, memiliki citra tersendiri yang membedakan kita dengan budaya-budaya kontinental di Timur Tengah, anak benua India, dan Afrika. Islam Nusantara memberi corak budaya maritim dalam praktik keislaman yang lebih egaliter dan humanis.
“Islam itu bersifat global dan universal. Sejarah sudah membuktikan bahwa Islam hadir di semua negeri dan bisa menjadi nilai yang mewarnai dan meliputi budaya-budaya lokal yang sangat beraneka ragam dan kaya sekali” tambahnya.
Prof. Nasaruddin juga menyatakan Re-Indonesia-nisasi ajaran agama, khususnya Islam, perlu dilakukan kembali. Hal ini dilakukan supaya penetrasi paham-paham transnasional bisa ditangkal, atau paling tidak bisa diminimalisir. Jadi, semua paham keagamaan yang akan masuk ke Indonesia perlu di-Indonesia-kan dulu, sehingga kecenderungan radikal, ekstremis dan teroris itu bisa dideteksi dini dan dijinakkan.
Guru besar UIN Syarif Hidayatullah ini menyampaikan, dosen di STAIN/IAIN/UIN bukan hanya seorang ilmuwan murni, tapi juga pemimpin kegiatan-kegiatan keummatan di masyarakat. Tanggung jawabnya bukan sekadar pengajar dan peneliti, tapi juga muballigh Islam yang wajib membumikan nilai-nilai keislaman Nusantara di tengah-tengah masyarakatnya, bahkan di dunia internasional.
Nasaruddin juga mengingatkan, “salah satu aspek yang paling penting untuk kita lestarikan dan gali kembali adalah spiritualitas khas Nusantara. Pendidikan dan pengajaran jangan hanya terbatas kepada buku dan manusia hidup” urainya. Beliau juga mengajak untuk tetap melanjutkan tradisi para ulama pendahulu yang sebagian besar ilmunya diperoleh secara ladunni, Ilham ilahiyah.
Sebagai pengkaji Utama atau pembedah buku, Dr. Zainal Anshari dalam kesempatan kali ini menyampaikan bahwa di Nusantara yang penuh kebhinekaan ini, banyak paham keagamaan tumbuh tanpa melalui bimbingan para tokoh agama yang kredibel. Juga tanpa sentuhan NU, Muhammadiyah, bahkan MUI.
“Mungkin karena Islam Nusantara yang sangat menekankan pentingnya persaudaraan (al-ikha'), persamaan (al-musawah), musyawarah, tolong menolong (mu'awanah) dan toleransi (at-tasamuh), maka kita terlalu longgar dan membiarkan penetrasi yang dilakukan oleh paham-paham dan kelompok-kelompok keislaman dari luar, khususnya kelompok-kelompok wahhabi-salafi dan takfiri” tambahnya.
Dosen IAIN Jember ini juga mengatakan perlu ditambahkan tentang eksistensi komunitas-komuntas keislaman yang membudaya, yang sebenarnya bisa menjadi benteng Islam Nusantara dari gempuran kelompok-kelompok Islam trans-nasional. Keberadaan Maiyah, syekhermania, ahbabul Mushthafa, dll, adalah benteng yg hidup, bukan hanya ormas-ormas resmi seperti NU, Muhammadiyah, MUI, dll.
Zainal Anshari yang juga merupakan sekretaris MUI Kabupaten Jember ini menambahkan “Yang mungkin luput dari pengamatan buku Prof. Nasar adalah fakta bahwa Islam tidak hanya menjadi nilai-nilai yg hidup di tengah masyarakat Indonesia, melainkan juga menjadi qanun atau aturan-aturan formal dalam struktur kenegaraan Republik Indonesia, seperti UU perkawinan, keuangan syariah, dan lain sebagainya” tambahnya.
Di akhir bedah buku ini Anshari menyampaikan harapannya, “Moderasi beragama dan Islam Nusantara tidak hanya didiskusikan di forum seminar dan ilmiah belaka. Diharapkan untuk para santri dan ilmuwan santri yang alim-alim harus berani tampil dan hadir di tengah-tengah masyarakat, mendampingi masyarakat, mendengarkan keluhan mereka, dan mengatasi masalah mereka. Kalau kita diam dan bersembunyi karena alasan tawadlu', misalkan, maka gerakan wahabi-salafi dan kelompok transnasional akan merebut panggung dan negeri kita benar-benar terancam akan menjadi medan Taliban. Na'udzubillahi min dzalik” ujarnya. (humas/naimah/cahya/ahmad winarno)
Tag :
